Renungan Harian

Apakah Marah Bisa Menjadi Berkat?

December 14, 2019

Saudara yang terkasih.

Dalam keseharian, kita sebagai manusia, kita selalu berada pada posisi yang sangat dekat dengan dosa, dan anda pasti sudah sering mendengar kalimat seperti itu.

Sayangnya saudara, kalimat itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Karena kita manusia sudah diciptakan sedemikian rupa untuk mampu melihat apa yang baik dan apa yang buruk. Dalam artian sederhana, di antara menjadi berkat atau menjadi dosa, pilihannya ada di tangan anda sendiri.

Manusia, dengan kemampuan berpikir yang sangat terbatas, seringkali lebih memilih untuk memuaskan hasrat dan keinginan yang dianggap dapat memuaskan hati, dengan kata lain, lebih memilih untuk menjadi dosa daripada menjadi berkat.

Seperti ketika seseorang berbuat kasar kepada kita, ada rasa ingin melawan atau membalas orang itu, perasaan ini meyakinkan kita bahwa itu adalah tindakan yang paling benar untuk mengangkat derajat, mempertahankan harga diri, dan memuaskan hasrat untuk mengalahkan orang itu. Disinilah kita sebagai manusia melakukan dosa, karena kekuatan iman yang lemah, membiarkan kita untuk mengandalkan kekuatan diri sendiri, daripada mengandalkan ajaran Tuhan.

Bagaimana Alkitab mengajar kita untuk masalah ini?

Amarah

Di Alkitab, kita diajarkan bahwa Marah adalah hal yang dapat berujung pada kejahatan (Mazmur 37:8). Marah dekat dengan kebodohan, dan Marah adalah hasil dari perbuatan ‘daging’ semata (Galatia 5:19).

Dalam Efesus 4:29 disebutkan bahwa, Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yg baik untuk membangun,
di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Dalam Amsal 12:16 disebutkan, Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.

Kerendahan Hati

Karena dengan kerendahan hati, anda akan menyadari, bahwa apa yang sedang terjadi, apa yang sedang anda lakukan, dan siapa diri anda yang sebenarnya, adalah hal yang sangat kecil di mata Tuhan. Anda dan saya ada saat ini, semua karena kasih-Nya.

Amsal 15:33 berbunyi, Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. (Mazmur 149:4)

Anda adalah Orang Percaya

Menjadi Orang Percaya, berarti meninggalkan hal-hal ‘daging’ duniawi dan bertekun dalam iman.

Menjadi Orang Percaya berarti menjadi manusia baru, dimana anda berkomitmen untuk meninggalkan kenafsuan, kebodohan, dan hal sia-sia lainnnya. (Efesus 4:17-32, 5:1-21)

Karena Kitab Suci berkata : “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” (Amsal 10:11)

0 likes

Author